Senin, 18 Maret 2013

Integritas dan Kegalauan: Antara Hati, Perkataan, dan Perbuatan


Saat ini sudah sering kita mendengar kata “integritas”. Dalam persyaratan lowongan kerja pun tidak jarang menjadikan integritas sebagai salah satu requirement-nya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan integritas?
Kalimat paling sederhana untuk menggambarkan makna integritas adalah kesamaan antara perkataan dan perbuatan. Jadi, seorang yang dikatakan berintegritas apabila apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang ia lakukan.
Perilaku yang sulit dikatakan contoh integritas misalnya adalah ketika kita berpisah dengan teman atau saudara. Bisanya saat berpisah kita melambaikan tangan dan berseru,”dada...!”. Sayang sekali, apa yang kita serukan itu tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan. Kalau ingin dikatakan integritas, seharusnya yang kita serukan adalah,”tangan...!”, atau kita ganti yang digoyang-goyangkan bukanlah tangan, tetapi dada. Saya kira yang cukup pas adalah melambaikan tangan dengan berseru,”bye..!”. Bukan bermaksud sok English, tetapi kata kata “bye” menurut hemat saya diadaptasi dari kosakata Indonesia yang berasal dari kata “lambai”, namun dipenggal suku kata akhirnya saja seperti yang lazim dipakai dalam bahasa sms (sandek, pesan pendek) di kalangan anak muda gaul.
Sifat lain yang tidak tergolong integritas adalah seperti yang ditunjukkan oleh Darmaji. Si Darmaji ini kalau makan gorengan lima biji, tapi yang dibayar cuma satu. Begitulah sifat Darmaji, dari lima jadi hiji.  Teman seperjuangan Darmaji adalah Ajidarma. Sebagai pejabat, Ajidarma seringkali menambah-nambahi nilai anggaran proposal, dana yang tadinya hanya 1 miliar ditambah-tambahi menjadi 5 miliar. Demikianlah Ajidarma, awalnya hiji di-mark up jadi lima. Darmaji itu merugikan orang lain, sedangkan Ajidarma memperkaya diri sendiri, sehingga tak heran kalau Darmaji dan Ajidarma yang tidak termasuk golongan integritas ini menjadi kejaran KPK. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama, sumpah itu memang bisa jadi sebuah nama, namun yang saya maksudkan bukan sebenarnya nama.
Dalam bela diri aikido yang belum lama saya tekuni, sering ditekankan harmoni antara mind-body-movement. Maksudnya adalah ketika kita melakukan sebuah teknik atau jurus hendaknya melibatkan ketiga hal tersebut. Salah satu guru besar pencak silat di Garut pun pernah mengatakan hal yang mirip, dengan istilahnya pikiran-hati-perbuatan. Dalam praktik keseharian, jika harmonisasi ketiga hal di atas tidak terjadi maka akan menyulitkan. Contoh konkritnya adalah seorang yang bertekad untuk beranjak (move on) dari mantan gebetan yang sungguh ngebet untuk dijadikannya sebagai ibu dari anak-anaknya kelak. Ia sudah yakin untuk tidak memikirkan wanita itu lagi, juga yakin sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi. Akan tetapi jika ternyata masih sering stalking ke laman facebook, timeline twitter, status BB atau Whats App, maka sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang galon, alias GAGAL MOVE ON!
Atau bisa jadi sebaliknya seorang wanita yang mati-matian menolak seorang lelaki, selalu pergi dan menghindar jauh dari jangkauan sang lelaki, namun ketika sang lelaki tampak tidak berbuat apa-apa wanita itu pun menoleh dan mencari-cari ada apa gerangan sang lelaki berhenti mengejar. Hal ini sangat berpotensi membuat sang wanita terjatuh pada perangkap yang tak terlihat. Sang lelaki benar-benar menikahi orang lain, sang wanita terjebak dalam nostalgia adrenalin pernah dikejar-kejar samapi ke ujung desa. Maka saudara-saudaraku, ketiadaan integritas berpotensi besar menyebabkan KEGALAUAN!
Bergeraklah kita dengan sepenuhnya sadar dan fokus pada tujuan, jangan terlalu banyak terpengaruh lingkungan. Dalam peribahasa Arab dikatakan bahwa sebenarnya kijang berlari lebih cepat daripada singa, kijang tertangkap singa karena terlalu sering melihat ke belakang. Seandainya sang kijang fokus berniat berlari, mengerahkan semua tenaganya, dan menghadapkan seluruh tubuhnya ke depan, tentu bisa selamat dari terkaman singa. Karena sikap dan perilaku yang tidak berintegritas ini, populasi kijang saat ini sudah jauh berkurang. Jumlahnya sudah kalah banyak dibanding jumlah avanza dan xenia.
Hal penting yang perlu kita ingat, pahami dan lakukan adalah bahwa integritas itu ada dalam persyaratan iman. Seorang dikatakan beriman apabila ia mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dalam hatinya, serta mengamalkannya dalam perbuatan.
Jadi marilah Saudara-saudara, kita harmoniskan hati, lisan, dan perbuatan (anggota badan) agar kita termasuk golongan yang berintegritas dan terhindar dari kegalauan. 

Jumat, 01 Februari 2013

Meniru dan Ditiru

Di salah satu dojo tempat saya berlatih Aikido ada sebuah kebiasaan yang menurut saya agak aneh. Kebanyakan aikidoka pemula di sana seringkali melakukan teknik sambil menaruh sebelah tangan di pinggang. Keheranan saya akhirnya terpecahkan setelah bertemu sensei yang paling dituakan di sana. Sensei itu -tanpa mengurangi hormat saya- punya kebiasaan menopang pinggang dengan sebelah tangan saat menjelaskan sebuah teknik, suatu sikap tubuh yang sebenarnya hanya sebuah kebiasaan bukan bagian penting dari teknik.
Di lain waktu, seorang teman saya bercerita agar hati-hati bertingkah laku jika nanti sudah punya anak. Teman saya itu sempat bingung melihat anaknya yang berusia sekitar 2 tahun suka menyodor-nyodorkan upil ke orang lain. Setelah direnungkan, ternyata memang teman saya itu suka berbuat demikian saat bercanda dengan istrinya.
Saya sendiri sering kaget karena ada beberapa kebiasaan saya yang ternyata ditiru oleh teman-teman kantor. Teman satu ruangan saya jadi suka bertepuk tangan tiga kali. Katanya dengan dengan bertepuk tangan seperti itu dapat menghilangkan masalah dan stres. Parahnya, dia bilang kebiasaan itu ia tiru dari saya, padahal sama sekali saya tidak melakukan itu dengan niat demikian, murni iseng belaka.
Coba Anda renungkan beberapa kebiasaan yang seringkali Anda lakukan. Coba Anda ingat-ingat hal baru apa yang menjadi kebiasaan Anda, cara bicara, cara menulis, atau mungkin bahasa tubuh Anda. Dapatkah Anda menjelaskan dari mana muncul kebiasaan tersebut?
Kita memang belajar dari lingkungan. Bermula dari memperhatikan, kemudian meniru, akhirnya menjadi kebiasaan. Ada kalanya proses belajar hingga menjadi kebiasaan itu terjadi tanpa kita sadari. Lucunya, hal yang tanpa sadari kita tiru dari orang lain sebenarnya tidak ada makna sama sekali menurut orang yang kita tiru itu. Maka, marilah kita saring baik-baik pengaruh dari lingkungan, jangan sampai apa yang kita tiru malah suatu hal yang jelek.
Sekarang mari kita renungkan, hal apa yang dilakukan orang lain yang ternyata merupakan hasil tiruan dari perilaku kita? Adakah? Saya yakin ada. Coba lihat lingkungan dekat Anda. Jika Anda orang tua, perhatikan anak-anak Anda. Jika Anda seorang pemimpin, lihatlah anak buah Anda. Jika Anda seorang guru, perhatikanlah murid-murid Anda. Nah, apakah kebiasaan yang ditiru dari Anda adalah kebiasaan baik, jelek, atau malah tak bermakna? Yuk, kita lebih bijak dan hati-hati dalam bertindak dan bertingkah laku, semoga pengaruh yang kita tularkan adalah suatu hal yang baik-baik. Hal yang tak bermakna tak apa-apa yang ternyata ditiru, setidaknya menunjukkan bahwa kita orang yang pantas ditiru, hehe7.

Rabu, 23 Januari 2013

Inspiring, lalu...


Saat itu, semua anggota tim berkumpul di aula. Hampir semua yang bicara, menyiratkan keraguan. Mereka tidak yakin bahwa mereka bisa melakukan apa yang sudah diputuskan oleh kantor pusat. Bos di unit itu terus berusaha meyakinkan bahwa mereka bisa. Memang, Bos ini merupakan tipikal orang yang tak pernah mengatakan tidak bisa. Ia selalu mengatakan “ya” apapun tantangan yang harus ia hadapi.

Akhirnya saya melambaikan tangan untuk meminta izin bicara. Saya tak ingin tim berlarut-larut dalam ketidakpercayaan diri. Saya bercerita. Cerita yang dulu pernah disampaikan dosen saya dalam sebuah training, yang bagi saya sangat menginspirasi.
Ada anak unta bertanya pada bapaknya yang tentu juga unta.
“Ayah, Ayah, kenapa sih kita punya punuk?”
“Punuk ini adalah tempat cadangan air kita, jadi kalau kita berjalan jauh di padang pasir, kita tidak akan mudah kehausan.”
“Ayah, Ayah, kenapa sih kaki kita panjang-panjang?”
“Oh, itu agar kita tidak mudah terperosok di pasir ketika menjelajahi gurun berhari-hari”
“Ayah, ayah, kenapa sih kelopak mata kita lebar sekali?”
“Kau tahu, Nak? Di gurun seringkali terjadi badai pasir, kelopak seperti ini sangat membantu agar mata kita menutup rapat sehingga tidak mudah kemasukan debu atau pasir.”
“Tetapi, Ayah, kenapa kita tinggal di kebun binatang?”

Tampaknya tim cukup paham dengan cerita yang saya sampaikan. Pak Bos menegakkan kepalanya, matanya terlihat bersemangat. Ia pun menegaskan pada tim bahwa segala sumber daya, system, dan teknologi yang dibutuhkan sudah tersedia. Dengan bekal itu semua, tidaklah patut meragukan diri untuk melangkah pada situasi baru, karena bekal yang sudah ada itu memang disediakan untuk menghadapi tantangan yang dihadapi tim saat itu.

Suasana tim kembali bergairah. Agenda demi agenda dapat dilalui dengan tanpa pesimisme. Saya menikmati suasana itu hingga suatu ketika saya cukup terperanjat.

Beberapa pecan kemudian, seorang rekan mengatakan pada saya bahwa ia masih ingat dengan cerita unta yang saya kisahkan. Tentu saya senang ketika ia mengakui bahwa cerita itu menginspirasi baginya. Rasa senang itu seketika berubah, saat dia mengatakan bahwa ia sedang menyiapkan berkas lamaran ke perusahaan lain.

Senin, 28 Mei 2012

Catatan Penting

Jadi ada beberapa hal yang tidak penting yang sedikit mengusik pikiran saya yang kata banyak orang seperti selalu tak pernah serius. Adapun hal2 tersebut adalah:
- Banyak sekali orang yang berpendapat bahwa setiap orang bebas berpendapat. Tetapi kenapa ya, orang-orang yang berpendapat bahwa setiap orang bebas berpendapat tampaknya tidak membebaskan orang lain punya pendapat untuk memaksakan pendapat. Oh, bebaskanlah. Apakah saya salah memahami? Biarkanlah, toh bukankah ada yang berpendapat bahwa setiap orang bebas mempunyai pemahaman dan pandangan sendiri? Kalau ternyata pendapat saya ini salah, terima saja, saya juga terima akan konsekuensi atas kesalahan pendapat saya termasuk ketidaksukaanmu atas kesalahan saya, toh saya juga tidak suka kamu yang tidak suka saya.
- Bebas, oh bebas, tentu kita semua bebas mau melakukan apa saja di dunia ini. Mau jungkir balik, kayang, maupun jalan-jalan telanjang tak pakai baju. Dan tentu saja empunya dunia ini juga bebas memperlakukan dunia yang dimilikiNya termasuk memberikan tanggapan terhadap apa pun yang kita lakukan di dunia milikNya. Adilkah? Ah, saya mah terserah sama siapa yang menciptakan keadilan saja.
- Pidi Baiq, seorang ayah yang menurut saya dia yakin bahwa dia adalah ayah terkeren di dunia pernah menulis bahwa kalau bangsa kita ini adalah bangsa pembantu, maka jadilah pembantu yang profesional. Hal ini saya sampaikan pada ayah saya yang kekerenannya sebagai ayah akan saya lampaui nanti insyaAlloh (tolong tak perlu bilang saya narsis, cukup aminkan saja, siapa tahu yang akan punya ayah keren ini adalah nanti anakmu) dan ayah saya setuju bahwa meskipun maknanya baik, tapi akan banyak orang yang tak suka dengan pernyataan tersebut. Jadilah saya kemudian berpikir dan bertanya-tanya meski tak sampai saya tanyakan pada rumput yang bergoyang (maafkan aku, wahai Ebiet G. Ade). Oh, mengapakah mereka yang di sini sering latah kita sebut ekspatriat sedangkan saudara-saudara kita di seberang sana disebut TKI/ TKW?
- Teman kantor saya yang biasanya berambut gondrong, lebih gondrong dari rambut saya punya, tiba-tiba muncul dengan penampilan baru dimana rambutnya telah terpangkas pendek. Tak lama kemudian, dia menikah. Oh, ini saya sudah potong rambut yang kata banyak orang saya jadi tampak jauh lebih ganteng, apakah tak lama lagi akan menikah?
Jadi, apakah hal-hal di atas adalah sesuatu yang penting untuk diutarakan ketimbang diselatankan? Jika menurut Anda bukan hal penting, taklah mengapa karena memang saya suka menjadikan penting hal-hal yang tak penting bagi Anda. Kalaulah ada hal-hal lain yang menurut Anda penting, saya juga beranggapan itu hal yang penting, sedemikian pentingnya hingga saya dengan akal tak seberapa ini tak dapat membantu Anda memikirkannya. Lagi pula, belum tentu ada yang baca tulisan saya, hahaha.

Kamis, 03 Mei 2012

Ayah-Ibu VS Bokap-Nyokap

Dalam celotehan saya yang tidak begitu penting ini, saya akan menggunakan istilah "bokap" dan "nyokap" yang merujuk pada orang tua laki-laki dan orang tua wanita. Saya gunakan istilah tersebut bukan dengan niat agar tampak gaul, tetapi hanya usaha untuk meminimalisir kesulitan memahami tulisan saya yang memang tampaknya sulit dipahami ini. Saya yakin tidak ada seorang anak pun yang ketika di rumah berkata,"bokap, pinjam motor ya" atau "nyokap, aku minta uang dong buat beli buku".

Apa panggilan anda pada bokap dan nyokap? kalau saya memanggil bokap dan nyokap di rumah dengan panggilan ayah-ibu. 
Entah bercanda atau serius, nyokap saya dulu bilang bahwa awalnya mereka ingin dipanggil papi-mami. Hal itu tidak mungkin katanya, mereka tidak mau jika anak-anak mereka dikira memanggil bokapnya dengan nama panggilan (dikira-kira saja ya nama bokap saya siapa). Tidaklah sopan sapaan demikian di dalam budaya kita nusantara. Namun tetap saja sering terjadi kesalahpahaman di rumah soal sapaan tersebut. Kami di rumah terbiasa menjawab panggilan dengan "ya" atau "iya". jadi kalau nyokap memanggil kami -- anak-anaknya-- dari dapur, maka ketika kami menjawab panggilan nyokap tersebut, bokap juga akan menjawab. Kira-kira dialognya seperti ini:
Nyokap di dapur: "Ariiiip..."
Saya di kamar: "Ya...."
Bokap di ruang tengah: "Iya..."
Nyokap di dapur: "ambilin daun salam di kebon..."
Saya di kamar: "Iya...."
Bokap di ruang tengah: "Ayah di sini, kamu aja yang ke sini"

Dulu saya bertemu seorang ikhwan yang sedang menggendong anaknya. Teman saya menyapa sambil bertanya pada anaknya,"mana Ummi-nya?". Sang ikhwan menjawab,"Ga punya Ummi, adanya Ibu. Hehe, ayah-ibu saja". Sang ikhwan itu tak mau dipanggil Abi karena nama istrinya adalah Ummi (eh, atau Emi? atau Rahmi, atau? ya sudah, bukan nama sebenarnya). 

Jadi, kalau nanti menjadi orang tua, panggilan apa yang anda inginkan dari anak-anak anda?

Kalau saya saya sih tergantung ya, tergantung siapa nanti yang akan jadi nyokapnya anak-anak. Kalau nanti nyokapnya anak-anak bernama Emma, Irma, Rima, (bukan nama sebenarnya) saya tidak mau dipanggil "papa". Yang terpikirkan bebas dari misinterpretasi sampai saat ini adalah ayah. Bukan hanya karena saya suka dengan contoh dari orang tua saya, tetapi juga saya belum pernah menemukan nama wanita yang berakhiran "Bu". Eh, tetapi agak sulit juga dipanggil ayah, jika nanti nama ibunya anak-anak adalah Linda, Rida, atau Amanda, atau yang sejenisnya (tentu ini juga bukan nama sebenarnya). Saya yakin anda paham maksud saya.

Demikianlah, dulu saya beranggapan sebuah panggilan atau sapaan untuk orang tua itu selalu berpasangan: mama-papa, mami-papi, ayah-ibu atau ayah-bunda atau bapak-ibu. Ternyata tidak selalu berpasangan. Saya agak kaget ketika seorang teman saya memanggil ibunya dengan "mamah", sedangkan ayahnya dipanggil "ayah". Rasanya tak biasa. Begitu juga agak sedikit heran melihat paman saya dipanggil "babe" oleh anak-anaknya, tetapi anak-anaknya memanggil nyokap mereka "mama". ini mungkin saja karena Bibi saya itu tidak pede dipanggil "enyak" kali ya, hihihi.

Selain panggilan umum yang kita kenal ada juga panggilan yang unik di luar kebiasaan. Ada yang memanggil ayahnya "Bi", tanpa "a" di depannya. Awalnya kami kira maksudnya adalah "Abi". Ternyata anak-anak itu mengikuti kebiasaan nyokap mereka yang selalu memanggil suaminya dengan panggilan "Bang Di" (nama sebenarnya atau bukan, abaikan saja), yang didengar anak-anak hanya huruf depan dan huruf akhirnya saja. Ahahaha...

Baiklah, sekarang saya sudah dapat menerima bahwa tak selamanya panggilan khusus untuk bokap-nyokap harus selalu berpasangan sesuai kebiasaan. Yang masih berat saya terima adalah ketika mendengar atau membaca pasangan yang saling memanggil menggunakan sapaan yang biasanya khusus untuk bokap-nyokap, bukan dalam rangka untuk membiasakan anak-anak mereka menyapa demikian, karena jangankan punya anak, menikah saja belum.

Jadi, akan dipanggil apakah anda oleh anak-anak anda nanti? bagaimana kalau dipanggil "Bokap" dan "nyokap" saja? Hehehe7

Rabu, 21 Maret 2012

Catatan Sepotong Roti

Pada hari Rabu, iya hari Rabu, saya membaca harian Kompas Minggu (18/03/12). Ada artikel menarik yang mengulas roti khas di beberapa kota di Indonesia. Membaca ulasan artikel tersebut mengingatkan saya tentang beberapa hal terkait roti.

Dulu, saya pernah berkeinginan untuk membuka toko roti. Bukan, bukan karena saya jago membuat roti. Entahlah, tetapi saya suka roti, suka aromanya, suka teksturnya ketika digigit. Salah satu yang juga menginspirasi saya untuk punya toko roti adalah sebuah telenovela. Saya pernah sekilas melihat telenovela yang salah seorang tokohnya punya toko roti. Tokoh tersebut bilang bahwa dengan tokonya itu memang belum tentu membuat mereka jadi kaya, tetapi setidaknya dijamin tidak akan kelaparan.

Bicara soal aroma roti yang menggoda. Saya pernah menemukan sebuah sumber yang mengatakan bahwa aroma menyengat yang seketika membuat ileran dan keroncongan pada toko-toko roti terkenal di mall bukanlah dari dapur mereka, tapi dari sejenis pengharum ruangan yang beraroma roti. *Bah, shut up ’n take my money!

Ketika dulu ibu saya membuat roti, ibu menyerahkan adonan yang sudah jadi kepada saya. Saya senang sekali karena bisa bebas bereksperimen membuat bentuk-bentuk aneh. Ayah saya memuji roti hasil bentukan saya yang katanya bagus sekali. Haha, tentu ayah tidak tahu, sebelum dipanggang adonan roti itu saya bentuk menjadi tokai seperti yang biasa digambarkan dalam manga terutama Sinchan. Hihi, yang penting enak ketika sudah masuk mulut. *rainbow puke
Saya juga punya beberapa pengalaman terkait mengolah roti sebelum dimakan. Roti yang sudah disimpan lebih dari dua hari biasanya mengeras. Untuk melunakkannya kembali agar enak dimakan cukup dengan cara dipanaskan. Memanaskannya bisa dengan cara dipanggang atau dibakar. Jika sobat tidak punya panggangan roti atau toaster, bisa menggunakan wajan. Tidak perlu pakai minyak goreng, cukup taruh di atas wajan panas, jangan lupa dibolak-balik. Cara lain adalah dengan disetrika, penting untuk diperhatikan untuk tidak perlu disemprot pelicin. Silakan komentar saya ini gila. Teman satu kos saya juga dulu bilang demikian. Tetapi nyatanya, mereka mengikuti jejak saya, haha...

Ada yang tahu roti sumbu? Ini adalah salah satu roti khas Indonesia. terbuat dari singkong yang direbus. Yap, cukup direbus, kemudian jadilah roti sumbu. Kau akan lihat di tengah-tengahnya ada sumbunya. Hehe

Saya juga seringkali bingung. Pernah teman saya menawari roti yang baru saja dibelinya. Belasan tahun saya hidup di negeri ini, yang saya tahu pasti apa yang disodorkan teman saya adalah biskuit. Oh, betapa sedikitnya perbendaharaan kosa kata yang saya pahami.
Kebingungan yang lain disebabkan oleh tante saya. Pernah tante saya pergi ke warung, katanya hendak membeli roti jepang. 

Saya yang penasaran tentu saja menanti-nanti kedatangannya ingin melihat dan tentu saja mencicipi seperti apa roti tersebut. Saya curiga, rotinya habis dimakan tante di jalan karena tak mau membaginya pada saya. Sampai sekarang, saya tak pernah tahu apa gerangan roti jepang itu. Namun dari info yang beredar, roti jepang punya nama alias yaitu roti sobek. *Aarrghh... tak sobek-sobek..

Yang paling membuat saya bingung dan geli adalah saat membaca kisah tentang orang yang memakan tuhannya. Dia membuat tuhan dari roti. Dibentuknya sedemikian rupa. Beribadahlah dia kepada tuhan roti tersebut. Namun, ketika merasa lapar dan tak ada makanan sedikitpun, maka dimakanlah tuhannya itu.

Dan sungguh saya kagum, bagaimana cara seorang ulama menunjukkan bahwa di Al Quran ada penjelasan cara membuat roti. Beliau diminta bukti bahwa Al Quran menjelaskan semua hal termasuk cara membuat roti. Maka sang Ulama mengajak orang yang bertanya untuk menemui ahli masak di sebuah dapur. Kata beliau,”Bertanyalah kepadanya, karena di Al Quran disebutkan ’bertanyalah pada ahlinya, jika kamu tidak mengetahui’”. Yang dimaksud ”ahli dzikr” dalam An Nahl:43 adalah orang yang memiliki ilmu. CMIIW.

Selasa, 17 Januari 2012

Ternyata Saburai Tak Ada Hubungannya dengan Samurai

Salah satu kata yang sering saya dengar di sini adalah ”Saburai”. Sebuah lapangan luas semacam alun-alun kota yang sering digunakan untuk penyelenggarakan bermacam acara dinamakan Lapangan Saburai. Sudah hampir dua tahun saya di kota ini saya masih belum tahu apa sebenarnya Saburai itu. Wisnu teman saya, yang hampir satu tahun di kota ini, bilang bahwa Saburai itu singkatan dari Sai Bumi Ruwa Jurai. Namun, ia juga masih belum tahu apa arti sebenarnya dari frasa Sai Bhumi Ruwa Jurai. Akhirnya, meskipun belum tahu apa artinya, saya resmi meninggalkan spekulasi bahwa Lampung ini ada hubungan istimewa dengan samurai Jepang.

Teman saya yang lahir dan besar di Lampung tanpa diminta menjelaskan bahwa arti dari Sai Bumi Ruwa Jurai adalah Satu Bumi Dua Jurai. Bumi ya artinya bumi. Sedangkan jurai dapat berarti golongan atau suku. Kata temanku yang cantik itu (hueks:p) yang dimaksud dengan dua jurai adalah dua suku utama yang asli Lampung. Pertama, biasa disebut Pepadun. Suku Lampung Pepadun adalah orang-orang asli yang mendiami wilayah Lampung pedalaman (atau agak ke dalam). Yang kedua adalah yang biasa disebut Lampung Sai Batin. Sai Batin adalah orang-orang asli yang mendiami wilayah pinggiran atau pesisir Lampung.

Di lain pihak, ternyata Wisnu juga mencari tahu mengenai istilah Saburai. Saat Wisnu hendak menjelaskan kepada saya arti dari Saburai, namun saya dengan sigap mendahuluinya dengan presentasi singkat hasil penjelasan teman saya di atas. Ternyata, informasi yang didapatkan Wisnu sedikit berbeda. Berdasarkan sumber Wisnu, yang dimaksud dengan dua jurai adalah golongan asli Lampung dan golongan pendatang. Sebagaimana kita ketahui Lampung merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi. Banyak sekali pendatang di sini, terutama yang berasal dari Jawa. Jadi jangan heran kalau sobat datang ke Lampung mendengar percakapan sehari-hari dalam bahasa Jawa. Dan uniknya lagi (menurut saya) orang Lampung asli banyak yang pandai berbahasa Jawa, namun sayangnya jarang sekali ada pendatang Jawa yang pandai berbahasa Lampung. Dan saya sendiri, hampir dua tahun di sini rasanya lebih banyak mendengar bahasa Jawa dibanding bahasa Lampung. Ah, wat wat gawoh.

(Ini hanyalah sekedar cerita pencarian saya dengan metode mulut ke mulut. Jika ingin menelusuri catatan tertulis silakan lihat di sini dan sini. Lebih lengkap lagi di sana dan sana)